Dieng

Dingin, Tenang, dan Selalu Dirindukan

Perjalanan saya ke Dieng adalah salah satu perjalanan yang paling saya tunggu-tunggu. Banyak orang bercerita tentang keindahan dataran tingginya, udaranya yang menusuk dingin, serta kabut yang datang dan pergi seperti tirai alam. Ketika akhirnya saya menginjakkan kaki di sana, semua cerita itu terasa begitu nyata.

Hawa dingin menyambut saya sejak pagi. Kabut tipis menggantung di atas perkebunan, rumah-rumah penduduk, dan jalanan kecil yang berliku. Banyak wisatawan menginap, sehingga suasananya terasa hidup namun tetap damai. Dieng punya cara untuk membuat orang betah—mungkin karena kombinasi antara alam yang menenangkan dan budaya lokal yang hangat.

Saat saya berjalan menyusuri area pegunungan, saya merasa seperti sedang memasuki dunia yang berbeda. Pemandangan hijau, bukit berundak, dan angin yang berhembus pelan membuat suasana terasa sangat jauh dari kebisingan kota. Bahkan suara langkah orang di sekitar terdengar lembut karena diselimuti oleh kabut.

Dieng bagi saya bukan hanya tempat wisata, tetapi tempat yang mengajarkan bahwa keindahan bisa saja sederhana: kabut yang turun perlahan, udara dingin yang menggigit, atau suasana tenang yang membuat kita ingin kembali lagi. Ada alasan mengapa banyak orang menjadikan Dieng sebagai wishlist—dan setelah ke sana, saya akhirnya mengerti kenapa.