Keindahan yang Tetap Berdiri Kokoh

Kunjungan saya ke Kota Lama hari itu sebenarnya hanya untuk menikmati suasana bangunan-bangunan tuanya. Seperti biasa, kawasan ini sangat ramai: wisatawan berjalan ke sana kemari, pedagang memenuhi trotoar, dan suara musik jalanan bercampur dengan hiruk pikuk kota. Jujur saja, keramaian itu sempat membuat saya lelah dan ingin cepat-cepat pulang.

Tapi semuanya berubah ketika saya tiba di depan Gereja Blenduk.

Di tengah keramaian yang tidak pernah berhenti, bangunan ini berdiri begitu kokoh dan tenang, seolah tidak terpengaruh oleh waktu atau suasana sekitar. Lampu-lampu malam memantulkan cahaya ke kubah merahnya, menunjukkan detail arsitektur kolonial yang cantik dan simetris. Saya berdiri cukup lama hanya untuk menatapnya—ada sesuatu yang damai dari bangunan tua ini.

Saat melihatnya, saya sempat membayangkan bagaimana puluhan atau bahkan ratusan tahun lalu, orang-orang datang ke gereja ini untuk beribadah, berjalan di jalan yang sama, di bawah lampu yang mungkin tidak seindah hari ini. Rasanya seperti menyentuh potongan kecil sejarah yang masih hidup.
Malam itu, rasa lelah saya hilang begitu saja. Yang tertinggal hanyalah rasa kagum pada keindahan dan keteguhan Gereja Blenduk yang terus berdiri melampaui zaman.